penguasa2 itu sebenarnya lebih hina dari yg kita pikirkan,,,
hanya sedihnya, ada sebahagian dari kita yg tetap mengagung2kan mereka lalu berfikir bahwa mereka adalah pahlawan yg pulang dari medan perang dengan berlumur darah dan membawa kemenangan,,,
dan darah yg berlumuran di pakaian & wajah mereka adalah darah si miskin yg dibunuhnya dengan kebijakan bertameng kesejahteraAn, darah dari pejuang sesungguhnya yg dia cabik2 dengan cakar kekuasaAn bertameng pemerataAn dan ke adilan
si penguasa lalu berjalan di altar penderita'an rakyat dengan sesekali menoleh kiri dan kanan untuk tersenyum pada para penjilat di sekitarnya, penjilat yg selalu menjulurkan lidahnya dan pandai berkata "siap" sa'at majikan memberi perintah,,,
si penguasa masih juga rakus & tamak akan pujian & sanjungan. tapi sayang, dia alergi akan kritik. dia selalu merasa benar, dia ingin semua kata2nya seperti ayat yg turun dari langit ketujuh dan menjadi kebenaran yg mutlak. dia ingin berharap semua yg keluar dari mulutnya seperti titah raja yg barang siapa yg melanggarnya maka akan berakhirlah hidupnya di dunia,,,
mengapa tidak sekalian saja dia mengaku sebagai tuhan, atau mungkin di hati kecilnya (kalau dia masih punya)dia masih merasa bahwa dia tidak sesempurna apa yg dia inginkan, atau mungkin saja dia sedang mempersiapkan diri tuk mendeklarasikan diri sebagai TUHAN...
dia masih gemar berlagak bagai pahlawan di film 80an dengan topi coboy yang dikenakanya, revolver terselip gagah di pinggangnya untuk menakut2ti, mengintimidasi setmua yg menatapnya tanpa senyum, walau itu senyum sinis,,,
dasar penguasa bodoh, takbisa membedakan mana senyum karna simpatik dan bangga dengan senyum sinis karna kebencian,
hahahaha... dia tidak bisa membedakan mana syair pujian dan mana kidung yg melantun menghinanya,,,
coretan ini akan selalu bertambah sa'at melihat mendengar atau mengingatmu wahai PENGUASA yg.... ah, aku hanya menghabiskan energiku untuk orng sepertimu,,,
jika hati brkehandak 1001 jalan akan anda temukan jika hati tidak berkehandak 1001 alasan akan anda kemukakan
welcome my home
aku bukan dia, bukan dia dan dia
aku adalah aku yang takkan pernah menjadi orang lain
aku adalah aku yang takkan pernah menjadi orang lain
Jumat, 06 November 2009
NISASI
Alkisah=>
syahdan seorang anak yg kuliah d Jawa, suatu waktu dia lalu menulis surat U/ orang tuanya d kampung
"pa' mengingat uang ADMINISTRASI & uang SEMESTERnisasi yg meningkat, serta uang PACARANisasi & ROKOKnisasi yg bertambah, maka uang TRANSFERisasi bulan ini tolong d naikkan"
setelah surat tiba di kampung & di baca olh ayahnya, lalu sang ayah membalasnya
"nak, mengingat hasil KEBUNisasi & PANENisasi yg berkurang, maka kamu harus pulang U/ MENCANGKULisasi d KEBUNisasi, supaya terpenuhi kau punya PERMINTAaNisasi, kalau tidak, nanti PARANGnisasi akan menyusul"
Salam SAYANGnisasi
Ayah & Ibu d KAMPUNGnisasi
syahdan seorang anak yg kuliah d Jawa, suatu waktu dia lalu menulis surat U/ orang tuanya d kampung
"pa' mengingat uang ADMINISTRASI & uang SEMESTERnisasi yg meningkat, serta uang PACARANisasi & ROKOKnisasi yg bertambah, maka uang TRANSFERisasi bulan ini tolong d naikkan"
setelah surat tiba di kampung & di baca olh ayahnya, lalu sang ayah membalasnya
"nak, mengingat hasil KEBUNisasi & PANENisasi yg berkurang, maka kamu harus pulang U/ MENCANGKULisasi d KEBUNisasi, supaya terpenuhi kau punya PERMINTAaNisasi, kalau tidak, nanti PARANGnisasi akan menyusul"
Salam SAYANGnisasi
Ayah & Ibu d KAMPUNGnisasi
Langganan:
Postingan (Atom)